Menapaki Jejak Diri
Bersama ASUS Zenbook UX391UA

Ada kalanya kita harus berdamai dengan masa lalu. Karena langkah terbaik untuk meracik masa depan adalah kembali ke titik asal. Mundur selangkah, mengambil ancang-ancang, kemudian melesat jauh ke depan. Sebagian orang berkata, ini adalah kontemplasi. Ada pula yang menamainya bercermin diri. Aku lebih suka dengan sebutan: menapaki jejak diri.

Libur Akhir Tahun

“Libur akhir tahun ini, kita ke mana, Pap?” tanya Nadia. Kedua matanya menatapku penuh harap.

Aku terdiam seraya menghela napas panjang. Tubuhku gemetar mendengar pertanyaan sederhana dari istriku. Aku takut, jawabanku akan membuatnya sedih dan kecewa.

Dulu, ketika masih tinggal di Manado, kami mengisi liburan akhir tahun seperti kebanyakan orang. Melancong ke berbagai objek wisata eksotis di Nusantara. Berbagai tempat kami kunjungi, ratusan foto kami abadikan. Pantai dan Bali, menjadi satu kesatuan erat yang tak pernah kami tinggalkan. Ceritanya pun sering kurangkai dalam tulisan.

Namun sayangnya, itu dulu. Lain dulu, lain pula sekarang.

Ketika membaca surat mutasi setahun yang lalu, dadaku langsung sesak. Aku tahu, hidup kami akan berubah karenanya. Namun aku juga sadar, aku tak punya pilihan.

Sebagai pegawai kantoran, kesiapan untuk ditempatkan di mana saja kerap menjadi cobaan besar. Itu yang aku alami saat ditugaskan kembali ke Jakarta. Bukan apa-apa, kami sudah terlanjur mencintai Bumi Nyiur Melambai.

Langitnya biru, udaranya bersih, dan deretan pantainya melimpah. Sebagai kaum pendatang, kami pun mendapat fasilitas rumah dinas yang lebih dari sekadar memadai. Segalanya ada, tinggal bekerja saja.

Beda halnya dengan Jakarta. Kemacetan dan polusi udara nampaknya kian merajalela. Tumpukan tugas dan pekerjaan yang lebih kompleks mesti kuakrabi. Namun yang paling membuat nyeri kepala, keuangan kami juga terkena imbasnya. Sebab kami terpaksa harus menyewa apartemen di pusat kota yang harganya cukup menguras gaji.

Maklum saja, ini Jakarta, Bung!

Alhasil, untuk bertahan hidup dan tetap mandiri, kami pun harus berubah. Program mengetatkan ikat pinggang terpaksa kami lakukan. Arus kas, baik masuk dan keluar, aku catat dengan sangat ketat. Hingga akhirnya aku harus rela mencoret Bali dari daftar lokasi berlibur.

Dengan berat hati, aku pun menjawab, “Tahun ini, kita di sini dulu ya, Mih.”

KEMBALI KE TITIK ASAL

Akhir tahun di ibukota layaknya dejavu bagiku. Pasalnya, Jakarta adalah kota tempat aku mengenyam pelatihan selama 6 bulan sebelum diangkat menjadi pegawai. Karierku sebagai pegawai bermula dari sudut kota ini.

Ya. Delapan tahun yang lalu, di kawasan Kota Tua. Aku menggantungkan beribu asa.

Kata orang, tak ada waktu yang lebih baik untuk mengevaluasi diri selain pada akhir tahun. Waktu yang sempurna untuk melihat kembali, apakah masih ada impian yang menggantung? Kala terbaik untuk berbaikan dengan masa lalu, demi melangitkan resolusi dan cita-cita untuk masa depan.

Aku pun memutuskan, mungkin inilah saat terbaik untuk kembali ke titik asal.

Kawasan Kota Tua dikenal dengan lokasi yang sarat akan guratan sejarah. Pada abad ke-16, ia dikenal sebagai pusat perdagangan Asia karena posisinya yang strategis dan dianugerahi sumber daya alam yang melimpah.

Kawasan yang tempo lalu dinamakan Oud Batavia atau Batavia Lama ini juga menyimpan kenangan pahit bangsa Indonesia. Tepat 400 tahun lalu, Sang Komandan VOC, Jan Pieterszoon Coen, meluluhlantahkan perjuangan nenek moyang kita. Dari kota inilah, Belanda membenamkan taringnya kuat-kuat ke dalam bumi Nusantara.

Bangunan peninggalan kolonial Belanda seperti berdiri tegak melawan masa. Arsitektur bergaya aristokrat nan jemawa, bisa kalian temui saat menyusuri sudut kota. Sebut saja kantor Gubernur VOC yang sekarang sudah berganti nama menjadi Museum Sejarah Jakarta. Dari kantor inilah, Belanda mengendalikan Nusantara selama lebih dari 350 tahun lamanya.

MENEMUKAN KEMBALI KEPING MEMORI

Menyusuri kawasan Kota Tua layaknya menemukan kembali keping memori yang terlupa. Ingatan yang lama tersimpan di balik lubus otak seketika menyeruak, memenuhi isi kepala.

Aku ingat, bagaimana aku versi tempo dulu—Sang Sarjana yang baru lulus kuliah—diajarkan cara menganalisa kelayakan nasabah. Aku pun tergelitik tatkala mengingat keluh kesah kawan-kawan satu batch yang tidak semuanya lulusan ekonomi, tetapi dijejali dengan teori-teori ilmu akuntansi. Aku juga tersenyum getir, saat kami harus makan nasi goreng sepiring bertiga karena gaji belum kunjung tiba.

Belum selesai otakku menayangkan memori masa lalu, tiba-tiba aku merasa malu. Sungguh-sungguh malu.

Zaman itu, rasanya kesulitan bukanlah halangan. Tuntutan pekerjaan yang berat terasa lebih ringan saat kami menertawakan. Gaji yang pas-pasan, tak membuat kami melepas cita-cita dan impian.

Aku yang sekarang, berkali-kali lipat lebih sejahtera dibanding aku yang dahulu. Dahulu aku sendiri, kini ada istri yang setia menemani. Namun ketika arus kas dan kebebasan berwisata sedikit terganggu, mengapa mengeluh melulu?

Orang bijak bilang, “Semua pasti ada hikmahnya.” Mungkin untuk alasan inilah, Tuhan membimbingku ke kawasan Kota Tua. Untuk mengingat sesuatu yang seharusnya kulakukan setiap waktu. Yang seharusnya kupanjatkan pada setiap ritual ibadahku. Yang sepantasnya tak terlupakan meski lintasan waktu terus menantang.

Sesuatu yang baru kusadari tatkala menjelajahi kawasan Kota Tua itu adalah kewajiban mensyukuri segala karunia-Nya.

LAPTOP DAN STASIUN JAKARTA KOTA

Meski semua memori serasa timbul kembali, namun ada satu landmark di kawasan Kota Tua yang tak bisa kulupa. Landmark ini sengaja menjadi yang terakhir kukunjungi, sebelum menyudahi liburan akhir tahun kami. Sebab, ada satu kenangan pahit yang hingga kini masih membekas di hati.

Landmark itu bernama Stasiun Jakarta Kota.

Jumat sore, sepulang pelatihan. Kala itu, aku harus segera menuju ke Bogor untuk mengambil dokumen. Setelah lulus kuliah, aku memang masih meninggalkan beberapa barang penting di kota tempat kampusku berada.

Karena harus mengejar kereta, aku tak sempat mampir pulang ke kosan untuk menaruh barang-barang. Termasuk laptop yang kusimpan di dalam tas punggungku. Anda yang terbiasa menggunakan kereta, pasti tahu bagaimana sulitnya berjuang mengambil satu tempat di kereta pada jam pulang kerja. Hari Jumat, pula!

Desak-mendesak tak terelakkan. Injak-mengingak kaki tak bisa dihindari. Sikut-menyikut antar orang menjadi pemandangan yang memilukan. Peluh keringat para pencari nafkah tercampur menjadi satu. Aroma bau menghujam batang hidungku.

Tidak, aku tak mengeluh dengan itu semua. Yang aku sesali hanyalah satu. Yaitu ketika gelombang desakan menghujam tas punggungku.

“Brak…”

Dari bunyinya, aku tahu ada yang salah. Kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Saat kereta berhenti di stasiun Bogor, aku segera mengecek isi tas punggungku. Syukurlah laptop-ku tidak ada yang retak atau pecah.

Namun kebahagiaanku hanya sampai di sana. Momen selanjutnya membuat hatiku merana. Laptop-ku tak kunjung menyala meski tombol power telah kutekan ribuan kali.

Aku pun menghela napas panjang.

Selama seminggu kemudian, aku terpaksa melanjutkan sesi pelatihan tanpa laptop di tangan. Terpaksa mengandalkan catatan dan materi yang tersimpan di dalam laptop seorang kawan. Nilai di bawah rata-rata mesti kuterima ketika melihat hasil ujian.

Dan aku pun kembali menghela napas panjang.

Bagi pekerja kantoran, laptop ibarat nyawa. Ada ratusan dokumen penting yang tersimpan di dalamnya. Tak bisa ditukar ataupun digantikan. Seperti yang kualami, ketiadaan laptop karena rusak bisa membuat pekerjaan jadi buyar tak keruan.

Oleh karenanya, bagi pekerja commuter yang sehari-hari pulang-pergi naik kendaraan umum, memerlukan laptop yang tangguh. Selain performa mumpuni, ia juga harus tahan di segala medan horor jam pulang kerja. Terutama terhadap gelombang himpitan dan desakan.

Nah, kabar baiknya, laptop dengan spesifikasi tadi sudah ada dalam wujud ASUS Zenbook UX391UA. Yuk, mari kita berkenalan.

aSUS Zenbook UX391UA

LAPTOP IMPIAN PARA PEKERJA KANTORAN

UX391UA merupakan varian Zenbook yang baru saja dirilis ASUS di Indonesia pada 23 Oktober 2018 kemarin.

Mengapa laptop ini pantas menjadi impian para pekerja kantoran? Selain performa yang mumpuni karena dibekali dengan prosesor Intel® Core™ i7-8550U, sistem operasi Windows 10, memori 16GB 2133MHz LPDDR3, dan kapasitas sebesar 512GB PCIe® SSD, ia juga tangguh karena telah lulus uji Military Grade MIL-STD 810G.

Selain itu, Zenbook UX391UA juga dilahirkan dengan tubuh yang ramping (12,99 mm) dan ringan (1 kg). Menjadikannya ringkas dan bebas pegal bahu ketika dimasukkan ke dalam tas punggung.

Pilihan warna yang ditawarkan, menurutku, juga sangat elegan. Mau yang gelap seperti Deep Dive Blue, atau mewah layaknya Rose Gold.

SPESIFIKASI ASUS ZENBOOK UX391UA

Operation System

Intel® Core™ i7-8550U processor
  •  

Graphics

1,8GHz quad-core with Turbo Boost
  •  

Display

Integrated Intel® UHD Graphics 620
  •  

Memory

16GB 2133MHz LPDDR3 onboard
  •  

Storage

512GB PCIe® SSD
  •  

Wi-Fi

Dual-band 802,11ac Wi-Fi
  •  

Ketebalan

12,9 mm
  •  

Berat

1 kg
  •  

Nah, dari sekian banyak keunggulan yang dimiliki Zenbook UX391UA, ada enam hal yang penting bagi pekerja kantoran dengan segudang aktivitas dan mobilitasnya.

1. TANGGUH

Tak perlu takut lagi berdesak-desakan di commuter line saat pulang kerja, karena Zenbook UX391UA telah lolos berbagai uji, mulai dari drop test, vibration test, altitude test, high temperature test, hingga low temperature test. Aman dan tenang saat dibawa melintasi perjalanan.

Military Grade MIL-STD 810G atau disebut juga Environmental Engineering Consideration and Laboratory Test, merupakan rangkaian uji terhadap suatu produk untuk memperoleh standar militer Amerika Serikat (US Military Standard).

Berbagai uji dilakukan untuk menjamin ketangguhan Zenbook UX391UA, membuatnya kuat untuk digunakan dalam segala kondisi.

Rangkaian uji yang berhasil dilewati Zenbook UX391UA dapat kalian lihat di bawah ini.

TEST #1

DROP TEST

TEST #2

VIBRATION TEST

TEST #3

ALTITUDE TEST

TEST #4

HIGH-TEMP TEST

TEST #5

LOW-TEMP TEST

2. NYAMAN

Ketika bekerja di depan laptop, kenyamanan merupakan faktor utama. Zenbook UX391UA dapat terbuka hingga sudut 145 derajat, membuat pandangan ke layar semakin mantap. Ketika dibuka, keyboard-nya juga membentuk sudut 5,5 derajat, posisi paling optimal dalam mengetik. Sehingga, kalian bebas dari pegal jari atau linu pergelangan tangan ketika bekerja dengan Zenbook UX391UA.

Selain karena sudut bukanya yang dirancang secara presisi, keyboard Zenbook UX391UA juga didesain secara ergonomis. Alhasil, selain nyaman, jari kalian juga akan menari dengan akurat di atas papan ketik Zenbook UX391UA.

Jarak antar tombol diatur cukup lebar, permukaannya halus, ditambah dengan cahaya emas yang lembut, membuat mata tetap nyaman saat digunakan dalam kondisi pencahayaan yang temaram.

Saat digunakan berjam-jam di kantor, kalian juga tak perlu takut panas. Karena Zenbook UX391UA dilengkapi dengan Evolved Cooling System, sebuah sistem pendinginan udara yang menggunakan kipas kristal cair. Tebalnya hanya sebesar 0,3 mm, dan dilengkapi pula dengan pipa panas berbahan tembaga berukuran 0,1 mm. Dengan teknologi ini, aliran udara panas akan keluar dari ventilasi secara cepat, tenang, bahkan tatkala digunakan untuk multitasking sekalipun.

3. TAHAN LAMA

Daya tahan baterai menjadi salah satu hal yang penting ketika membeli laptop untuk teman bekerja di kantor. Tidak enak, dong, kalau sebentar-sebentar sudah nyari colokan karena kehabisan baterai. Rapat dengan atasan atau klien bisa berantakan kalau sudah begini.

Nah, saat rapat di luar kantor, kalian tidak perlu khawatir bila lupa membawa charger. Karena baterai Zenbook UX391UA berkapasitas 50 wH dapat bertahan selama 13 jam lamanya. Teknologi fast charging-nya dapat mengisi 60% daya dalam waktu 49 menit saja. Oleh karena itu, Zenbook UX391UA sangat cocok menjadi senjata andalan kalian tatkala jadwa presentasi sudah di depan mata.

DAYA TAHAN BATERAI

JAM

KECEPATAN ISI DAYA

PERSEN DALAM WAKTU 49 MENIT

KAPASITAS BATERAI

WATT HOUR

4. AMAN

Tak perlu takut lupa kata kunci untuk membuka laptop. Karena ketika kalian memiliki Zenbook UX391UA, kalian adalah password-nya. Fitur Windows Hello dan sensor sidik jari membuat laptop ini hanya bisa terbuka dengan kehadiran pemiliknya.

Windows Hello

Teknologi terbaru dari Windows untuk menggantikan sistem password. Pengguna ASUS Zenbook UX391UA bisa membuka laptop dengan sidik jari atau deteksi wajah. Cocok untuk pekerja kantoran agar kerjaannya tidak di-kepo-in rekan-rekan.

5. KONEKSI CEPAT

Pindah-memindah data berukuran besar? Tak perlu takut lambat karena Zenbook UX391UA memiliki tiga port USB-C™, dengan dua diantaranya dilengkapi dengan teknologi Thunderbolt™ 3. Melesat lebih cepat.

Data sangat penting bagi seorang pekerja kantoran. Kadang kala, beberapa tugas mengharuskan kita untuk berbagi data kepada sesama rekan kerja, klien, atau atasan. Nah, kalau sudah begini, kecepatan pindah data menjadi faktor yang tak bisa dipandang remeh.

3

USB-C™ ports

2

40Gbps Thunderbolt™ 3 ports5

40 Gbps

Atau dua kali lebih cepat dibanding generasi sebelumnya

6. SUARA KUAT & JERNIH

Penat saat bekerja dapat diminimalisir dengan lantunan musik yang enerjik. Nah, audio Zenbook UX391UA tak tertandingi karena menggunakan teknologi Harman Kardon yang dikeluarkan melalui dua speaker stereo berkualitas surround sound.

SEMANGAT BARU

Matahari perlahan naik dengan gagah. Panasnya mulai menyengat. Stasiun Jakarta Kota, kini semakin padat oleh lalu lalang para pejalan. Pedagang emperan mulai membuka lapaknya satu per satu. Diiringi lengkingan asongan yang sibuk menjajakan air minum dalam kemasan.

Sudah saatnya aku kembali pulang.

Lintasan waktu, terkadang memang terasa cepat berlalu. Namun, aku menemukan hal yang baru saat menapaki jejak diri di sudut Kota Tua. Yaitu pola pikir dan semangat baru.

Tak perlu meratapi keadaan yang semakin menantang. Terkadang, kita harus melawan dengan tegar. Memang, karier seorang pekerja kantoran pasti akan diuji dengan setumpuk pekerjaan. Namun, dengan ASUS Zenbook UX391UA yang tangguh dan elegan, semuanya tentu akan menjadi lebih ringan.

 

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Liburan Asik dengan Laptop ASUS yang diselenggarakan oleh ASUS dan Mira Sahid.

Sumber Foto: Pribadi dan ASUS

Comments (20)

  • Joe Candra / January 18, 2019 / Reply

    Kayaknya seru yah bang di Manado, wah gpp bang klo gak di Jakarta, kita gak bakal ktmu di upnormal waktu itu haha

    • (Author) nodiharahap / January 19, 2019 / Reply

      Wah iya, Bang. Di Jakarta kita ketemu, ya. Terima kasih sudah mampir, Bang.

  • Rizka Edmanda / January 18, 2019 / Reply

    wow makin kece aja nih tampilan blog nya, btw zenbook s ini emang keren banget ya, spesifikasinya oke dan desainnya elegan.

    • (Author) nodiharahap / January 19, 2019 / Reply

      Terima kasih Mba Rizka sudah mampir. Setuju, Mba, ASUS emang oke.

  • Juli Yandika / January 19, 2019 / Reply

    wah, jadi pingin belajar landing page gini bang… hehehe

    • (Author) nodiharahap / January 20, 2019 / Reply

      Sama, Kak. Aku juga baru belajar ini. Hehehe. Terima kasih sudah mampir, Kak. Salam hangat.

  • Adhi hermawan / January 19, 2019 / Reply

    Aku kayak pernah kenal sama tempat ini.
    Oh itu di Kota Tua, foto di bangunan bata merah…

    ASUS emang produk yang bukan kaleng-kaleng ya..

    • (Author) nodiharahap / January 20, 2019 / Reply

      Benar, Mas Adhi. Ini di kawasan Kota Tua. Terima kasih sudah repot-repot mampir ke mari ya, Mas. Salam hangat.

  • Siska Dwyta / January 19, 2019 / Reply

    Gaya ceritanya bikin saya larut dengan liburan bang Nodi di kota Tua.

    Yap, ada kalanya memang kita harus kembali ke titik asal untuk ambil ancang2 agar dapat melesat jauh ke depan.

    Laptop ASUS keluaran terbarunya ini memang bikin mupeng deh

    • (Author) nodiharahap / January 20, 2019 / Reply

      Setuju banget, Mba. Terima kasih sudah berkenan mampir. Salam hangat.

  • Prita Hw / January 19, 2019 / Reply

    Wihiiii, blog baru nih, mantap! Btw, kalo lagi di Jakarta, menyusuri kota tua emang pilihan yg pas ya, rasanya waktu seolah melambat. Nah, kl pas lagi traveling, ditemenin zenbook, pasti lbh semangat buat nulis blog dimana aja 🙂 Gudlak mas^^

    • (Author) nodiharahap / January 20, 2019 / Reply

      Iya, Mbaku. Masih belajar bikin landing page yang bagus. Hehe. Terima kasih sudah berkenan mampir, Mba. Salam hangat.

  • alfian hoki / January 20, 2019 / Reply

    saya baru sekali mampir ke kota tua, itupun perginya cuma sebentar jadi fotonya dikit banget hehehe, emang ya di zaman now kita butuh laptop yang powerfull tuk maksimalkan kerjaan dan hobi. nais post bro. oh iya karena ini blog baru jadi salam kenal yak 😀 😀

    salam blogger dan salam HOKI

    • (Author) nodiharahap / January 24, 2019 / Reply

      Bener banget, Bro. Laptop tangguh sepertinya udah jadi kewajiban para pekerja kantoran, pejalan, maupun pekerja waktu-bebas. Hehehe. Salam kenal kembali, Bro, dan salam hangat. Terima kasih sudah mampir ke mari.

  • Amir / January 21, 2019 / Reply

    Dari dulu saya udah suka sama Asus, laptop juara pokonya. Btw baru pertama udah sip aja page buildernya 🙂

    • (Author) nodiharahap / January 24, 2019 / Reply

      Benar Mas Amir, laptop juara. Haha, masih belajar nih, Mas. Terima kasih sudah datang ke mari, ya.

  • Firmansyah / January 21, 2019 / Reply

    Mantab Bang Nodi…. Udah coba blog landing page. Aku dulu pengen nyoba aja udah nyerah duluan wkwk. Btw, ASUS ZenBook ini sukses bikin semua blogger geger ya. 😀

    Semoga sukses Bang Nodi.

    • (Author) nodiharahap / January 24, 2019 / Reply

      Iya nih, Mas Firman. Aku juga masih pusing sebenernya pakai landing page. Tapi gak papa, belajar. Dinikmati saja. Hehe. Terima kasih sudah mampir ke mari ya, Mas.

  • Wiwid Nurwidayati / January 23, 2019 / Reply

    wah bisa ya, dibuat dengan tampilan landing page gini. Saya baru tahu.
    btw, Asus Zenbook emang kece…

    • (Author) nodiharahap / January 24, 2019 / Reply

      Aku juga masih belajar nih, Mba. Hehehe. Terima kasih sudah mampir ke mari. Salam hangat.

Add comment